Penjelasan Grammar di Balik Lirik Lagu Taylor Swift yang Sering Bikin Bingung

May 13, 2026 - by Nabilla F.

Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris - Halo para Swifties dan English learners! Siapa sih yang nggak suka dengerin lagu-lagunya Taylor Swift? Mulai dari era country dengan gitar akustiknya, sampai era pop dan indie-folk yang liriknya super puitis, lagu-lagu Taylor selalu sukses bikin kita sing along alias nyanyi bareng. Taylor Swift memang diakui sebagai salah satu penulis lagu terbaik di generasi ini. Pilihan kosakatanya (vocabulary) sering banget bikin kita terkesima dan buru-buru buka kamus.

Tapi, pernah nggak sih pas lagi asyik nyanyi, kamu tiba-tiba berhenti dan mikir, "Eh, tunggu dulu deh. Kok kalimatnya begini ya? Bukannya kalau di sekolah diajarinnya nggak begini?"

Tenang saja, kamu nggak sendirian kok! Banyak banget orang yang lagi asyik belajar bahasa Inggris tiba-tiba jadi bingung saat membedah lirik lagu pop. Kadang, ada aturan tata bahasa atau grammar yang sengaja "ditabrak" demi bikin lagunya lebih enak didengar. Di dunia sastra dan musik, hal ini wajar banget dan dikenal dengan istilah Poetic License (hak prerogatif penyanyi untuk membengkokkan aturan bahasa demi seni).

Menariknya, mendengarkan lagu Barat sebenarnya bukan cuma hiburan, tapi juga bisa jadi cara efektif untuk melatih listening dan pronunciation kalau dilakukan dengan teknik yang tepat. Kalau kamu sering belajar bahasa Inggris lewat musik, jangan lewatkan juga artikel Sering Dengar Lagu Barat? Begini Cara Memaksimalkannya untuk Latihan Listening supaya waktu dengerin lagu favorit jadi lebih produktif untuk upgrade kemampuan bahasa Inggris. 

Meski begitu, penting banget buat kita tahu mana grammar yang benar secara akademis, biar nggak salah tulis waktu ujian atau saat bikin essay. Nah, di artikel ini, kita bakal bedah tuntas penjelasan grammar di balik lirik lagu Taylor Swift yang sering bikin bingung. Yuk, kita mulai!

Penjelasan Grammar di Balik Lirik Lagu Taylor Swift yang Sering Bikin Bingung - Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris

1. Kasus Singular vs Plural Pronoun di Lagu "Fifteen"

Mari kita putar waktu ke era album Fearless. Di lagu berjudul Fifteen, ada penggalan lirik yang sangat ikonik tapi sempat memicu perdebatan seru di kalangan ahli bahasa dan pembuat ujian di Amerika sana.

Lirik Taylor: "Cause when you're fifteen and somebody tells you they love you / You're gonna believe them."

Di mana letak kebingungannya? Secara aturan grammar tradisional yang super kaku, kata somebody (seseorang) itu dihitung sebagai subjek tunggal (singular). Jadi, kata ganti (pronoun) yang mengikutinya seharusnya juga tunggal, yaitu he atau she, dan him atau her.

Versi Grammar Formal: "Cause when you're fifteen and somebody tells you he or she loves you / You're gonna believe him or her."

Penjelasan Lengkap: Coba bayangkan kalau Taylor nyanyi pakai versi grammar formal di atas. Belibet banget, kan? Nadanya jadi nggak pas dan liriknya terdengar seperti buku teks pelajaran. Kasus ini sempat dimasukkan sebagai contoh "grammar yang buruk" oleh The Princeton Review (lembaga persiapan ujian SAT di Amerika).

Tapi faktanya, penggunaan they atau them sebagai kata ganti tunggal (singular they) sekarang sudah sangat lumrah dan diakui dalam bahasa Inggris modern, terutama kalau kita tidak tahu secara spesifik gender orang yang sedang dibicarakan, atau ingin bersikap netral (gender-neutral). Jadi, untuk percakapan sehari-hari (speaking), lirik Taylor ini sah-sah saja dipakai! Tapi ingat, kalau kamu lagi ngerjain soal TOEFL atau IELTS bagian Structure, tetap patuhi aturan tradisionalnya ya.

2. Aturan Subjunctive Mood yang Dilanggar di Lagu "The Man"

Sekarang kita lompat ke era album Lover. Di lagu The Man, Taylor Swift mengandaikan bagaimana perlakuan masyarakat terhadap dirinya jika dia adalah seorang laki-laki. Liriknya sangat empowering, tapi ada satu kaidah grammar yang sengaja ia lewati.

Lirik Taylor: "I'm so sick of running as fast as I can / Wondering if I'd get there quicker if I was a man."

Di mana letak kebingungannya? Kalau kamu pernah belajar tentang Conditionals atau kalimat pengandaian (khususnya Conditional Type 2 yang membicarakan sesuatu yang tidak nyata atau berlawanan dengan fakta saat ini), kamu pasti tahu aturan emasnya: Subjek apa pun (I, You, They, We, He, She, It) harus menggunakan to be "were", bukan "was". Aturan ini disebut Subjunctive Mood.

Versi Grammar Formal: "Wondering if I'd get there quicker if I were a man."

Penjelasan Lengkap: Secara fakta, Taylor Swift bukanlah seorang laki-laki. Jadi kalimat ini adalah murni pengandaian atau imajinasi. Dalam aturan baku, kita wajib menggunakan if I were. Namun, dalam percakapan kasual bergaya Amerika (American English), banyak native speaker yang secara spontan menggunakan if I was. Taylor memilih if I was mungkin karena terdengar lebih membumi, kasual, dan pas dengan ketukan melodinya.

Buat kamu yang lagi belajar, jadikan ini catatan penting: pakai if I was pas lagi nongkrong santai boleh banget, tapi kalau lagi nulis surat lamaran kerja bahasa Inggris atau academic writing, pastikan kamu tulis If I were, ya!

3. Posisi Subjek yang Terbalik di Lagu "Me!"

Lagu kolaborasi Taylor Swift dengan Brendon Urie ini super ceria dan catchy. Tapi, kalimat pertama yang keluar dari mulut Taylor di verse pertama langsung bikin guru bahasa Inggris geleng-geleng kepala sambil senyum.

Lirik Taylor: "I promise that you'll never find another like me / I know that I'm a handful, baby, uh / I know I never think before I jump / And you're the kind of guy the ladies want / (And there's a lot of cool chicks out there) / I know that I went psycho on the phone / I never leave well enough alone / And trouble's gonna follow where I go / (And there's a lot of cool chicks out there) / But one of these things is not like the others / Like a rainbow with all of the colors / Babydoll, when it comes to a lover / I promise that you'll never find another like / Me and truth, we don't make a lot of sense." (Kita fokus ke kalimat terakhir).

Di mana letak kebingungannya? Penggalan Me and truth ini melanggar dua aturan dasar pronoun sekaligus. Pertama, masalah urutan kesopanan. Dalam bahasa Inggris yang baik, saat kamu menyebutkan diri sendiri dan hal/orang lain sebagai subjek, kamu harus menyebutkan hal/orang lain itu terlebih dahulu. Kedua, kata Me adalah object pronoun, padahal di kalimat ini posisinya ada di awal kalimat sebagai pelaku (subject). Seharusnya ia menggunakan I.

Versi Grammar Formal: "The truth and I, we don't make a lot of sense."

Penjelasan Lengkap: Kalimat Me and... (misalnya: Me and my friends went to the mall) adalah kesalahan tata bahasa yang paling umum dilakukan oleh native speaker sekalipun. Sangat kasual, sangat wajar diucapkan, tapi secara tertulis itu salah total. Kamu harus membiasakan diri menggunakan My friends and I saat merangkai subjek kalimat.

Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris - Trial

Daftar Trial Class Online Mr.BOB Kampung Inggris, disini. 

4. Hilangnya To Be dan Auxiliary Verb di "Shake It Off" dan "Bad Blood"

Musik pop sangat kental dengan pengaruh bahasa gaul (slang) dan kebiasaan berbicara cepat. Di lagu Shake It Off dan Bad Blood, Taylor menggunakan struktur kalimat yang sangat sering kamu temui di meme, tweet, atau obrolan santai di internet.

Lirik Taylor (Shake It Off): "And the haters gonna hate, hate, hate, hate, hate."

Lirik Taylor (Bad Blood): "Cause, baby, now we got bad blood."

Di mana letak kebingungannya? Pada lirik pertama, kata gonna adalah singkatan dari going to. Aturan tenses Future yang baku mewajibkan adanya to be sebelum going to. Sementara di lirik kedua, ungkapan kepemilikan seharusnya menggunakan have atau have got, bukan sekadar subjek langsung ditambah got.

Versi Grammar Formal:

  1. "And the haters are going to hate."
  2. "Cause, baby, now we have bad blood." (Atau "we have got bad blood").

Penjelasan Lengkap: Menghilangkan to be (are, is, am) adalah ciri khas bahasa slang atau gaya bicara informal. Begitu juga dengan penggunaan we got sebagai pengganti we have. Dalam komunikasi sehari-hari via chat atau speaking santai, ini sangat bisa diterima dan bikin kamu terdengar lebih fluent dan natural layaknya native speaker. Tapi ingat batasannya, struktur kalimat seperti ini haram hukumnya dimasukkan ke dalam tugas esai kampus atau presentasi bisnis formal.

Setelah membedah beberapa lagu di atas, kamu mungkin bertanya-tanya, "Berarti Taylor Swift nggak jago grammar dong?"

Eits, jangan salah! Sebagai seorang penulis lagu jenius, Taylor Swift dan musisi top lainnya tentu sangat menguasai tata bahasa Inggris. Mereka bukannya tidak tahu aturan dasar, melainkan mereka memilih untuk mengubahnya. Di dunia musik, ada tiga elemen yang jauh lebih penting daripada grammar baku: Rhythm (irama), Rhyme (rima/sajak), dan Cadence (ketukan nada).

Sebuah kalimat dengan tata bahasa yang sempurna bisa jadi punya jumlah suku kata (syllables) yang kepanjangan, sehingga tidak muat dinyanyikan dalam satu tarikan napas atau ketukan drum. Selain itu, menggunakan tata bahasa yang lebih kasual dan slang membuat musisi terasa lebih dekat, akrab, dan relatable dengan pendengarnya. Mereka menggunakan bahasa persis seperti bagaimana orang-orang berbicara di kehidupan nyata, bukan seperti robot yang membaca buku kamus.

Belajar bahasa Inggris dari lirik lagu itu seru banget dan merupakan cara paling ampuh untuk memperkaya vocabulary baru, melatih kepekaan telinga (listening skill), dan belajar pronunciation. Tapi, karena ada banyak Poetic License dan tata bahasa informal di dalamnya, kamu tetap butuh panduan yang terstruktur biar fondasi grammar kamu tidak goyah.

Kalau kamu mau belajar materi bahasa Inggris lainnya, langsung aja cek artikel lain di website Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris. Biar nggak ketinggalan tips belajar seru tiap hari, jangan lupa follow Instagram dan TikTok kami, ya! Kalau masih bingung soal materi bahasa Inggris, kamu juga bisa konsultasi langsung lewat WhatsApp kami.

KELAS ONLINE MR.BOB KAMPUNG INGGRIS

Article written by Nabilla F.
Nabilla loves immersing herself in the world of languages and culture. Her favorite pastimes include watching Korean dramas, diving into books, enjoying good music, and savoring sushi. With a curious mind and a love for learning, Nabilla finds joy in every small moment of life.