Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris - Pernah gak sih pas lagi asyik scrolling di X (Twitter), TikTok, atau Instagram, kamu malah pusing sendiri melihat netizen lagi berantem? Di tengah-tengah perdebatan yang panas itu, sering banget muncul istilah-istilah bahasa Inggris yang terdengar keren tapi bikin dahi mengkerut. Dua istilah yang paling sering seliweran di kolom komentar belakangan ini adalah Echo Chamber dan Cancel Culture.
Buat kamu yang aktif di media sosial, istilah ini mungkin udah gak asing lagi di telinga. Tapi, apakah kamu udah benar-benar tahu apa arti yang sebenarnya? Jangan sampai kita cuma ikut-ikutan pakai istilah ini biar kelihatan gaul, padahal salah konteks waktu menggunakannya.
Nah, biar kamu makin paham dan gak salah kaprah, yuk kita bedah bareng-bareng apa itu Echo Chamber dan Cancel Culture, dari mana asal-usul katanya dalam bahasa Inggris, sampai bagaimana kedua fenomena ini bisa bikin jagat maya jadi makin toxic!
Menariknya, makin sering kita aktif di media sosial internasional, makin banyak juga vocabulary dan istilah bahasa Inggris modern yang harus dipahami. Hal ini juga berkaitan dengan kemampuan bahasa Inggris generasi muda Indonesia saat bersaing secara global di era digital sekarang. Kalau kamu penasaran, coba baca juga artikel Seberapa Jago Bahasa Inggris Gen Z Indonesia Dibanding Singapura, Filipina, dan Vietnam? untuk melihat bagaimana kemampuan bahasa Inggris Gen Z Indonesia dibanding negara Asia Tenggara lainnya.

Kita mulai dari istilah yang pertama, yaitu Echo Chamber. Kalau kamu sering heran kenapa isi timeline atau FYP (For You Page) kamu isinya orang-orang dengan opini yang seragam semua, bisa jadi kamu lagi terjebak di dalam fenomena ini.
Secara bahasa, istilah ini berasal dari dua kata dasar dalam bahasa Inggris, yaitu Echo dan Chamber.
Jadi, kalau digabungkan secara harfiah, Echo Chamber adalah sebuah ruangan bergema. Bayangkan kamu masuk ke dalam ruangan kosong yang tertutup rapat, lalu kamu berteriak kencang. Suara yang akan kamu dengar ya cuma suara kamu sendiri yang memantul berulang kali di dinding ruangan tersebut. Kamu gak akan bisa mendengar suara dari luar ruangan itu.
Dalam konteks dunia maya dan media sosial, Echo Chamber adalah sebuah kiasan untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang hanya terpapar pada informasi, opini, atau keyakinan yang sejalan dengan pemikirannya sendiri.
Kok bisa hal ini terjadi? Biang kerok utamanya adalah algoritma media sosial.
Sadar atau gak, platform seperti TikTok, Instagram, X, dan YouTube selalu merekam kebiasaan kita. Kalau kamu suka dengan satu sudut pandang politik, sering nge-like konten tentang teori konspirasi tertentu, atau hobi nonton video debat dari satu kubu saja, algoritma akan terus menyuapi kamu dengan konten-konten sejenis.
Lama-kelamaan, akun-akun yang beda pendapat sama kamu akan tenggelam dan gak pernah lewat lagi di timeline. Akhirnya, kamu merasa bahwa seluruh dunia setuju dengan pendapat kamu, padahal kamu cuma lagi main di dalam "ruangan bergema" yang kamu ciptakan sendiri (atau diciptakan oleh algoritma). Dampak buruknya, kita jadi makin sulit menerima perbedaan, gampang nge-gas kalau ada opini berbeda, dan merasa kelompok kita adalah yang paling benar.
Supaya kemampuan bahasa Inggris kamu makin terasah, berikut adalah beberapa contoh penggunaan kata Echo Chamber dalam kalimat sehari-hari beserta cara bacanya:
Setelah paham tentang ruang bergema, sekarang kita bergeser ke istilah kedua yang gak kalah ramai, yaitu Cancel Culture. Istilah ini biasanya muncul kalau ada public figure, artis, influencer, atau bahkan netizen biasa yang ketahuan melakukan blunder atau kesalahan fatal.
Mari kita bedah lagi dari sisi bahasanya. Istilah ini terdiri dari kata Cancel dan Culture.
Secara istilah di kalangan netizen internasional, Cancel Culture adalah fenomena atau budaya di mana netizen secara massal menolak, memboikot, atau "membatalkan" dukungan mereka terhadap seseorang (biasanya tokoh terkenal) karena orang tersebut telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang dianggap menyinggung, melanggar moral, atau bermasalah secara sosial.
Ketika seseorang terkena cancel, netizen akan ramai-ramai meng-unfollow akunnya, menyerukan boikot terhadap karya-karyanya, mendesak brand-brand untuk memutus kontrak kerja sama, sampai menuntut orang tersebut meminta maaf dan mundur dari ruang publik. Di Indonesia, fenomena ini mirip banget dengan istilah "di-rujak netizen" atau "diboikot massal", bedanya cancel culture skalanya bisa sampai mematikan karier seseorang secara permanen.

Daftar Trial Class Online Mr.BOB Kampung Inggris, disini.
Awal mulanya, gerakan ini sebenarnya punya niat yang baik. Cancel culture lahir dari gerakan yang disebut call-out culture, yaitu aksi menegur atau menyoroti kesalahan figur publik yang punya kekuatan atau kekuasaan besar agar mereka bisa dimintai pertanggungjawaban. Contohnya, ketika ada produser film terkenal yang melakukan pelecehan, netizen menyuarakan boikot agar korban mendapatkan keadilan.
Namun, makin ke sini, cancel culture sering kali bergeser menjadi aksi main hakim sendiri secara digital (cyberbullying). Netizen sering kali langsung nge-boikot seseorang tanpa mencari tahu kebenaran informasinya terlebih dahulu secara lengkap.
Ada dampak positif dan negatif dari budaya ini yang perlu kita tahu:
Yuk, pelajari cara menggunakan kata Cancel Culture atau kata kerja Cancel dalam percakapan bahasa Inggris:
Kamu mungkin bertanya-tanya, kenapa sih artikel ini membahas Echo Chamber dan Cancel Culture secara bersamaan? Jawabannya sederhana: karena kedua fenomena ini saling mendukung satu sama lain seperti lingkaran setan di media sosial.
Coba deh bayangkan alurnya seperti ini:
Jadi, Echo Chamber adalah tempat di mana sifat merasa paling benar itu dipupuk, sedangkan Cancel Culture adalah senjata yang dipakai untuk menyerang orang-orang yang ada di luar ruangan tersebut. Ngeri juga, ya?
Media sosial memang tempat yang seru buat mencari hiburan dan informasi. Tapi kalau kita gak hati-hati, algoritma dan ego kita sendiri bisa menjebak kita dalam fenomena Echo Chamber yang bikin pikiran jadi sempit, atau malah bikin kita terjebak dalam arus Cancel Culture yang hobi merundung orang lain.
Mengetahui arti dari istilah-istilah internet slang internasional kaya gini bukan cuma biar bahasa Inggris kita kelihatan keren pas lagi komen di media sosial. Lebih dari itu, memahami istilah ini membantu kita untuk punya literasi digital yang lebih baik. Kita jadi bisa lebih mindful, tahu kapan harus menahan diri, dan tahu cara menghargai perbedaan pendapat di internet. Yuk, jadi netizen yang lebih bijak mulai sekarang!
Kalau kamu mau belajar materi bahasa Inggris lainnya, langsung aja cek artikel lain di website Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris. Biar nggak ketinggalan tips belajar seru tiap hari, jangan lupa follow Instagram dan TikTok kami, ya! Kalau masih bingung soal materi bahasa Inggris, kamu juga bisa konsultasi langsung lewat WhatsApp kami.