Apa Itu Tren 'Bed Rotting' yang Viral di Media Sosial? Bedanya dengan Sekadar Malas-malasan

June 17, 2026 - by Nabilla F.

Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris  - Pernah nggak sih, setelah melewati lima hari kerja atau kuliah yang luar biasa padat, hal pertama yang terlintas di kepalamu saat hari Jumat malam cuma satu: kasur.

Bukan sekadar buat tidur malam, tapi kamu benar-benar berencana buat stay di atas kasur seharian penuh di hari Sabtu atau Minggu. Bangun tidur, buka handphone, lanjut maraton drakor di laptop, makan camilan sambil rebahan, ketiduran lagi, bangun lagi, dan siklus ini terus berulang sampai malam tiba. Kamu bahkan malas sekadar beranjak buat mandi atau ganti baju.

Kalau skenario di atas terdengar sangat relatable, selamat, kamu baru saja melakukan apa yang belakangan ini ramai disebut oleh Gen Z di TikTok sebagai tren "bed rotting".

Secara harfiah, istilah ini memang terdengar lumayan seram "membusuk di kasur". Apalagi kalau dilihat dari kacamata generasi yang lebih tua, kebiasaan ini pasti langsung dicap sebagai bentuk kemalasan hakiki. Padahal, kalau kita mau membedahnya lebih dalam dari sisi psikologis, tren rebahan ekstrem ini sebenarnya punya makna yang jauh lebih kompleks dari sekadar sifat pemalas.

Bagi banyak orang, ini adalah bentuk coping mechanism atau cara bertahan hidup dari kerasnya tuntutan hustle culture. Lalu, apa sebenarnya arti bed rotting, di mana letak perbedaannya dengan malas-malasan biasa, dan kapan kebiasaan ini bisa jadi bendera merah buat kesehatan mental kamu? Yuk, kita bahas tuntas semuanya di sini!

Apa Itu Tren 'Bed Rotting' yang Viral di Media Sosial? Bedanya dengan Sekadar Malas-malasan - Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris

Mengenal Apa Itu Tren 'Bed Rotting' yang Lagi Rame

Buat kamu yang mungkin belum terlalu familiar, mari kita samakan persepsi dulu. Bed rotting adalah istilah slang internet yang merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam, atau bahkan seharian penuh, di tempat tidur tanpa melakukan aktivitas yang produktif.

Tapi, ini bukan berarti kamu cuma tidur pulas seperti orang pingsan. Saat melakukan bed rotting, orang biasanya tetap bangun, tapi mereka menolak untuk meninggalkan zona nyamannya. Aktivitas yang dilakukan murni hal-hal yang bersifat low-effort atau minim usaha. Mulai dari scrolling media sosial tanpa tujuan (doomscrolling), nonton serial Netflix berjam-jam, mendengarkan musik sambil menatap langit-langit kamar, sampai makan dan minum di atas kasur.

Kenapa tren ini bisa tiba-tiba meledak dan jadi sangat viral di kalangan milenial dan Gen Z? Jawabannya ada pada fenomena burnout massal.

Kita hidup di era di mana produktivitas sering kali diukur dari seberapa sibuk diri kita. Hustle culture memaksa kita untuk terus bekerja, belajar, bersosialisasi, dan mengejar target tanpa henti. Belum lagi paparan informasi yang bertubi-tubi dari internet yang bikin otak kita mengalami sensory overload (kelebihan stimulasi sensorik).

Akibatnya? Baterai fisik dan mental kita terkuras habis.

Nah, bed rotting muncul sebagai bentuk "protes diam-diam". Ini adalah cara tubuh dan otak kita berteriak minta tolong untuk masuk ke "mode hemat daya". Kasur tidak lagi dilihat sekadar sebagai tempat beristirahat, melainkan sebagai safe space atau bunker perlindungan dari dunia luar yang terlalu berisik dan menuntut. Di atas kasur, tidak ada bos yang menagih deadline, tidak ada kewajiban untuk tampil rapi, dan tidak ada keharusan untuk berpura-pura produktif.

Baca Juga: Apa Itu Loud Budgeting? Bahasa Inggris untuk Kamu yang Lagi Mau Hemat tapi Tetap Gaul

Bed Rotting vs Malas-malasan: Di Mana Letak Bedanya?

Ini adalah pertanyaan paling penting yang sering memicu perdebatan. Banyak yang merasa guilty alias bersalah setelah melakukan bed rotting seharian karena merasa dirinya tidak berguna dan pemalas. Padahal, motivasi di balik rasa malas dan dorongan untuk "membusuk di kasur" itu sangat jauh berbeda.

Malas (Laziness) biasanya terjadi ketika kamu sebenarnya punya energi, baik fisik maupun mental, tapi kamu secara sadar memilih untuk menghindari tugas atau tanggung jawab karena merasa tidak tertarik atau tidak peduli. Orang yang malas sering kali menghindari sesuatu yang butuh usaha, tapi mereka mungkin masih mau melakukan aktivitas lain yang menyenangkan di luar rumah.

Sebaliknya, Bed Rotting sering kali berawal dari kelelahan yang ekstrem (exhaustion). Ini adalah active choice atau pilihan sadar untuk mengisolasi diri karena baterai kognitifmu sudah benar-benar nol persen. Tubuhmu butuh pemulihan total, dan otakmu menuntut zero input (tidak mau memproses informasi berat lagi).

Biar lebih jelas dan gampang dipahami, coba cek tabel perbandingan di bawah ini:

Indikator Pembeda Sifat Malas Biasa Bed Rotting (Sebagai Coping Mechanism)
Kondisi Energi Awal Sebenarnya punya energi, tapi enggan menggunakannya. Energi fisik, mental, dan emosional sudah benar-benar habis (burnout).
Motivasi Utama Menghindari kewajiban, tugas, atau rasa bosan. Mencari pemulihan diri, dekompresi, dan mengurangi stimulasi sensorik.
Perasaan yang Menyertai Cenderung santai, apatis, dan tidak terlalu memikirkan beban. Awalnya merasa lega, tapi kadang disusul rasa bersalah karena bentrok dengan hustle culture.
Pemicu (Triggers) Kurangnya motivasi atau tidak suka pada tugas tertentu. Stres kronis yang menumpuk, kelelahan bekerja/sosial, atau kecemasan ringan.

Intinya, kalau kamu memilih rebahan seharian karena hari-hari sebelumnya kamu sudah memaksakan diri bekerja bagai kuda, itu bukan malas. Itu adalah cara tubuhmu melakukan survival mode agar kamu tidak jatuh sakit.

Kapan Bed Rotting Berubah Menjadi 'Red Flag' Kesehatan Mental?

Meskipun memulihkan energi dengan cara ini sah-sah saja, kita harus tetap waspada. Ada garis tipis antara self-care (merawat diri) dan indikasi masalah kesehatan mental yang lebih serius, seperti depresi klinis.

Kalau kamu melakukan bed rotting sebagai tombol reset di hari libur dan kembali segar di hari Senin, itu hal yang wajar. Tapi, tren ini bisa berubah menjadi red flag alias bendera merah yang berbahaya kalau kamu mulai merasakan tanda-tanda berikut ini:

  1. Dilakukan Terlalu Sering dan Berkepanjangan: Kamu tidak cuma melakukannya di akhir pekan, tapi mulai merembet ke hari kerja. Kamu mulai membatalkan janji penting, bolos kerja, atau bolos kuliah hanya karena tidak sanggup bangun dari tempat tidur berhari-hari.
  2. Mengabaikan Basic Hygiene (Kebersihan Diri Dasar): Ini adalah salah satu sinyal bahaya paling jelas. Kalau kamu sampai di titik tidak mau mandi berhari-hari, malas sikat gigi, tidak mengganti pakaian dalam, dan membiarkan piring kotor menumpuk di kasur, ini bukan lagi soal pemulihan energi.
  3. Tidak Merasa Lebih Baik: Tujuan utama istirahat adalah agar kita merasa lebih fresh. Tapi kalau setelah melakukan bed rotting seharian kamu malah merasa makin hampa, kosong, cemas, dan sedih yang mendalam, ini bisa jadi gejala depressive episode (episode depresi).
  4. Menghindari Realita Sepenuhnya: Kamu menggunakan kasur bukan untuk istirahat, melainkan untuk lari dari kenyataan hidup yang tidak mau kamu hadapi. Kamu memutus semua kontak sosial dan mengisolasi diri secara ekstrem.

Kalau kamu atau teman terdekatmu menunjukkan tanda-tanda di atas, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional. Jangan ragu buat ngobrol dengan psikolog agar kamu bisa menemukan akar masalahnya.

Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris - Trial

Daftar Trial Class Online Mr.BOB Kampung Inggris, di sini. 

Cara Sehat Melakukan 'Bed Rotting' Pas Weekend Tanpa Rasa Bersalah

Kabar baiknya, kamu tetap bisa menikmati tren ini tanpa harus merusak kesehatan fisik dan mentalmu. Biar momen rebahanmu pas weekend benar-benar berkualitas dan optimal memulihkan energi, coba terapkan beberapa strategi sehat berikut ini:

  1. Tetapkan Batas Waktu (Time-Boxing)

Jangan biarkan rebahan mengambil alih seluruh hari liburmu tanpa kendali. Berikan izin sadar pada dirimu sendiri, misalnya: "Oke, aku mau bed rotting khusus hari Sabtu dari pagi sampai jam 3 sore aja". Pasang alarm. Setelah waktu habis, paksa dirimu untuk duduk, renggangkan badan, dan mulai lakukan aktivitas ringan lainnya. Batasan waktu ini sangat ampuh buat mencegah perasaan bersalah (guilt) yang suka datang tiba-tiba.

  1. Kurangi 'Doomscrolling' dan Pilih Aktivitas Berkualitas

Kualitas istirahatmu sangat ditentukan oleh apa yang kamu konsumsi selama rebahan. Kalau kamu seharian tiduran sambil membaca berita-berita negatif di Twitter (X) atau melihat pencapaian orang lain di Instagram, otakmu tidak akan benar-benar istirahat. Kecemasanmu malah bakal naik. Ganti aktivitasmu dengan hal yang lebih menenangkan: baca novel fiksi yang ringan, mendengarkan podcast komedi, pakai sheet mask atau skincare-an di atas kasur, atau sekadar memejamkan mata sambil mendengarkan suara hujan buatan.

  1. Jaga Kebersihan Kasur dan Diri Sendiri

Pastikan tempat tidurmu dalam keadaan bersih sebelum kamu mulai sesi bed rotting. Ganti sprei yang sudah kotor. Selain itu, seberat apa pun rasanya, sempatkan diri untuk setidaknya cuci muka, sikat gigi, dan ganti baju yang nyaman sebelum kembali masuk ke dalam selimut. Tubuh yang bersih akan membuat pikiran ikut lebih jernih.

  1. Siapkan Transisi Fisik ke Dunia Nyata

Saat sesi rebahanmu selesai, jangan langsung melompat melakukan tugas berat. Lakukan transisi pelan-pelan. Buka tirai jendela kamarmu biar cahaya matahari masuk. Cahaya alami ini akan mengirimkan sinyal ke otak bawah sadarmu bahwa hari masih berjalan. Minum segelas air putih hangat, lakukan peregangan kecil di pinggir kasur, lalu segera mandi air hangat. Proses transisi ini sangat penting buat mengembalikan mood agar kamu siap menghadapi realita lagi.

Pada akhirnya, bed rotting bukanlah sebuah kejahatan, dosa, atau tanda kemalasan fatal asalkan dilakukan dalam porsi yang pas. Di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk bergerak cepat, memberi izin pada diri sendiri untuk "berhenti total" selama beberapa saat adalah sebuah kebutuhan, bukan kemewahan.

Jadikan momen rebahanmu sebagai tombol reset sementara untuk otak dan tubuh yang lelah. Namun, kamu juga harus jujur pada dirimu sendiri. Kenali batasannya, dan perhatikan sinyal-sinyal yang dikirimkan oleh tubuh serta mentalmu. Kalau memang dirasa ada yang salah dan rasa lelahmu tak kunjung hilang, jangan pernah ragu untuk menjangkau bantuan profesional.

Jadi, rencana weekend ini mau ngapain? Kalau emang butuh bed rotting seharian, silakan nikmati waktumu tanpa rasa bersalah! Jangan lupa share artikel ini ke grup WhatsApp teman-temanmu yang hobi banget rebahan bareng, ya!

Kalau kamu mau belajar materi bahasa Inggris lainnya, langsung aja cek artikel lain di website Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris. Biar nggak ketinggalan tips belajar seru tiap hari, jangan lupa follow Instagram dan TikTok kami, ya! Kalau masih bingung soal materi bahasa Inggris, kamu juga bisa konsultasi langsung lewat WhatsApp kami.

KELAS ONLINE MR.BOB KAMPUNG INGGRIS

Article written by Nabilla F.
Nabilla loves immersing herself in the world of languages and culture. Her favorite pastimes include watching Korean dramas, diving into books, enjoying good music, and savoring sushi. With a curious mind and a love for learning, Nabilla finds joy in every small moment of life.