Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris - Pernah nggak sih kamu lagi asyik scroll lini masa X (yang dulu kita kenal sebagai Twitter) atau lihat-lihat kolom komentar di TikTok, terus ngelihat ada netizen yang lagi ribut debat kusir soal hal yang sebenarnya sepele banget? Di tengah adu argumen yang makin panas dan panjang lebar itu, tiba-tiba ada satu reply atau komentar singkat yang bunyinya cuma begini: "Bro, please touch some grass."
Kalau kamu sering main media sosial, kemungkinan besar kamu sudah nggak asing lagi dengan istilah yang satu ini. Frasa ini sering banget dipakai sebagai senjata pamungkas buat menutup perdebatan atau sekadar menyindir orang-orang yang kelakuannya di internet sudah kelewat batas wajar. Tapi, apa sih sebenarnya makna di balik kata-kata sederhana ini? Kenapa disuruh memegang rumput malah jadi sebuah sindiran yang lumayan nyelekit buat sebagian orang?
Lebih dari sekadar bahasa gaul internet atau slang musiman, istilah ini sebenarnya menyoroti fenomena psikologis dan sosial yang makin marak di era digital saat ini, yaitu kecanduan media sosial dan hilangnya batas antara realitas maya dengan dunia nyata. Kalau kamu merasa belakangan ini sering kepancing emosi gara-gara postingan orang yang bahkan nggak kamu kenal, atau merasa lelah secara mental tapi tangan nggak bisa berhenti buka tutup aplikasi sosmed, artikel ini pas banget buat kamu.
Mari kita bedah tuntas apa arti sebenarnya dari touch grass, apa hubungannya dengan fenomena chronically online, dan pastinya, gimana langkah-langkah praktis buat mengatasi gejala kecanduan sosmed yang mungkin diam-diam sedang kamu alami.

Secara harfiah, kalau kita terjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, "touch grass" berarti "menyentuh rumput". Kedengarannya seperti instruksi sederhana dari guru olahraga taman kanak-kanak, kan? Namun, di ekosistem internet, maknanya melenceng jauh dari sekadar urusan botani.
Dalam kamus bahasa gaul internet, touch grass adalah sebuah sindiran atau teguran keras (terkadang disampaikan dengan nada bercanda, namun seringkali serius) yang ditujukan kepada seseorang yang dinilai sudah terlalu lama menghabiskan waktu di dunia maya. Sindiran ini memiliki makna tersirat: "Kamu sudah terlalu lama main internet sampai lupa gimana rasanya dunia nyata. Coba deh keluar rumah, hirup udara segar, lihat matahari, dan sentuh rumput di luar sana supaya kamu sadar kalau dunia ini luas dan masalah yang kamu ributkan di internet itu sebenarnya nggak penting-penting amat."
Awalnya, istilah ini sangat populer di kalangan komunitas gamer (seperti di Discord atau Reddit) untuk menyindir pemain yang menghabiskan waktu puluhan jam sehari di depan monitor tanpa henti sampai melupakan kebersihan diri atau kehidupan sosialnya. Namun belakangan, istilah ini tumpah ruah ke berbagai platform arus utama seperti TikTok, Instagram, dan X.
Baca Juga: Slang Inggris Viral TikTok: Arti dan Cara Pakainya yang Benar
Kamu nggak bisa membahas touch grass tanpa menyenggol sepupunya: "chronically online". Seseorang biasanya disuruh menyentuh rumput ketika mereka menunjukkan gejala chronically online. Apa itu?
Secara sederhana, chronically online merujuk pada kondisi di mana seseorang menghabiskan porsi waktu yang sangat tidak wajar di internet, sampai-sampai cara pikir, bahasa, dan perspektif hidupnya sepenuhnya dibentuk oleh kultur media sosial. Orang yang chronically online seringkali kehilangan kemampuan untuk membedakan mana isu yang benar-benar berdampak pada kehidupan nyata, dan mana yang cuma sekadar drama mikro atau echo chamber (ruang gema) di internet.
Mereka bisa marah besar hanya karena opini sepele dari seorang influencer, atau menggunakan teori sosiologi yang sangat rumit untuk mengkritik hal-hal sepele seperti cara seseorang memakan sereal. Ketika logika seseorang sudah terlalu melangit dan terputus dari cara manusia normal berinteraksi sehari-hari, di situlah netizen lain akan turun tangan dan mengetik: "Touch grass."
Kadang kita nggak sadar kalau kita sendiri yang sebenarnya butuh keluar rumah dan menjauh dari layar gawai. Kecanduan media sosial seringkali datang diam-diam. Coba cek beberapa tanda di bawah ini. Kalau kamu mengangguk pada lebih dari dua poin, ini saatnya kamu mengevaluasi ulang screen time kamu:
Kalau kamu merasa mulai menunjukkan gejala-gejala di atas, jangan panik dulu. Kecanduan media sosial adalah hal yang sangat manusiawi di era di mana aplikasi memang dirancang secara psikologis untuk menahan perhatian kita selama mungkin. Yang terpenting adalah kemauan untuk mengambil kembali kendali atas waktu dan pikiranmu.
Berikut adalah 4 cara efektif yang bisa kamu praktikkan sekarang juga untuk benar-benar "touch grass" dan melepaskan diri dari jerat kecanduan sosmed akut:
Mendengar kata detox, banyak orang langsung berpikir ekstrem: menghapus semua akun media sosial atau membuang smartphone dan pindah ke hutan. Padahal, digital detox yang efektif justru yang dilakukan secara realistis dan bertahap. Ingat, internet tetap punya manfaat kalau dipakai dengan benar.
Kamu bisa mulai dengan menerapkan "Zona Bebas Layar" dalam rutinitas harianmu. Misalnya, tetapkan aturan ketat bahwa satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun pagi, HP harus dijauhkan dari jangkauan. Jangan biarkan layar terang HP menjadi hal terakhir yang kamu lihat sebelum tidur, dan jangan jadikan lini masa yang penuh keluhan sebagai menu sarapan otakmu. Beli jam weker fisik supaya kamu nggak punya alasan untuk memegang HP dengan dalih "cuma mau matiin alarm".
Pernahkah kamu berniat membuka HP cuma lima menit, tapi berakhir dengan scrolling selama dua jam melewati ratusan video pendek atau berita negatif? Selamat, kamu baru saja melakukan doomscrolling. Ini adalah kebiasaan mengonsumsi konten negatif secara terus-menerus tanpa henti.
Cara menghentikannya? Mulailah menjadi kurator yang kejam untuk lini masamu sendiri. Jangan ragu untuk menggunakan fitur Mute, Block, atau Unfollow. Kalau ada akun, keyword, atau topik tertentu yang selalu memancing emosi negatif dan bikin darah tinggi, bisukan saja. Media sosialmu adalah ruang tamumu sendiri. Kamu punya hak penuh untuk menendang keluar siapa pun yang membawa sampah ke dalamnya. Latih algoritma dengan secara sadar menyukai (like) dan menyimpan (save) konten-konten yang positif, edukatif, atau yang benar-benar menghibur.

Daftar Trial Class Online Mr.BOB Kampung Inggris, di sini.
Cara paling ampuh untuk melawan kehidupan yang terlalu virtual adalah dengan memperbanyak pengalaman nyata. Ya, kamu benar-benar harus melakukan aktivitas fisik yang melibatkan kelima panca indera di dunia nyata.
Daripada menghabiskan akhir pekan berdebat panjang lebar di kolom komentar, coba deh agendakan waktu buat mampir ke kedai kopi lokal favoritmu. Duduk santai, pesan minuman, perhatikan lalu-lalang orang, atau obrolkan hal-hal ringan dengan teman tanpa harus sibuk merekam suasananya untuk Instagram Story. Selain nongkrong, kamu juga bisa mencoba hobi baru yang menggunakan tangan dan kreativitas fisik, seperti merawat tanaman, memasak resep baru, merakit gunpla, membaca buku fisik yang halamannya bisa kamu sentuh, atau berolahraga ringan di taman kota. Semakin sibuk kamu di dunia nyata, semakin sedikit waktu yang kamu pedulikan untuk drama di dunia maya.
Terkadang, mengandalkan niat saja tidak cukup karena sistem notifikasi dirancang untuk memecah fokus kita. Ini saatnya melawan teknologi dengan teknologi. Manfaatkan fitur bawaan smartphone kamu, entah itu Digital Wellbeing di Android atau Screen Time di iOS.
Langkah pertama yang paling berdampak besar adalah mematikan notifikasi untuk semua aplikasi media sosial. Biarkan notifikasi menyala hanya untuk aplikasi komunikasi esensial seperti WhatsApp, email kerja, atau telepon. Ketika notifikasi Instagram atau TikTok mati, kamu nggak akan lagi mendapat panggilan buatan berupa bunyi ting yang memaksamu untuk segera membuka aplikasi. Kamu akan membuka sosmed hanya saat kamu benar-benar mau membukanya secara sadar, bukan karena ditarik oleh sistem.
Selain itu, kamu bisa mencoba fitur pengubah warna layar menjadi hitam-putih (grayscale/monochromacy). Layar yang tidak berwarna akan membuat tampilan Instagram atau TikTok menjadi sangat membosankan, yang secara psikologis akan membuat otakmu lebih cepat lelah dan kehilangan minat untuk scrolling berlama-lama.
Internet dan media sosial adalah penemuan luar biasa yang mempermudah hidup dan pekerjaan kita. Namun, seperti halnya semua hal di dunia ini, sesuatu yang berlebihan akan menjadi racun. Fenomena chronically online dan munculnya sindiran touch grass adalah alarm kolektif dari masyarakat digital bahwa kita sudah terlalu jauh tenggelam dalam lautan piksel.
Ketika seseorang menyuruhmu untuk "touch grass", anggap saja itu bukan sebagai hinaan, melainkan pengingat yang baik untuk kembali membumi. Dunia nyata dengan segala tekstur, aroma, cuaca, dan interaksi manusianya jauh lebih kaya dan lebih bermakna daripada rentetan teks marah-marah di layar kaca sebesar enam inci.
Jadi, setelah selesai membaca artikel ini, taruh gawaimu, regangkan otot, berdirilah, dan pergilah keluar sejenak. Hirup udara hari ini, dan selamat menyentuh rumput.
Kalau kamu mau belajar materi bahasa Inggris lainnya, langsung aja cek artikel lain di website Kelas Online Mr.BOB Kampung Inggris. Biar nggak ketinggalan tips belajar seru tiap hari, jangan lupa follow Instagram dan TikTok kami, ya! Kalau masih bingung soal materi bahasa Inggris, kamu juga bisa konsultasi langsung lewat WhatsApp kami.